Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana - Hallo sahabat PROSROZER, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana, Saya telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan
Artikel Cerpen, yang saya tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.
Judul : Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
link : Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
Anda sekarang membaca artikel Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana dengan alamat link https://prosrozer.blogspot.com/2018/06/aku-kau-dan-praja-muda-karana.html
Judul : Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
link : Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
Baca juga
Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
Cerita seorang anak perempuan sedang sedang mengalami situasi yang sangat mungkin tidak diinginkan semua perempuan dimuka bumi :(
yang bisa dibilang sedang berada di dalam suasana yang menegangkan, di-antara kedua laki-laki yang besamanya.
Apa kisah anak perempuan ini bisa membuat tegang ? "tegang apanya ya hehe"
yang bisa dibilang sedang berada di dalam suasana yang menegangkan, di-antara kedua laki-laki yang besamanya.
Apa kisah anak perempuan ini bisa membuat tegang ? "tegang apanya ya hehe"
Aku, Kau, dan Praja Muda Karana
“Gak bunuh diri aja sekalian ?”
Dia hanya diam, ketika aku terus
mengoceh kepadanya dengan kecepatan setara mobil angkot yang penuh dengan
muatan. Rasanya, selama ini semuanya berjalan baik-baik saja, tapi hari ini,
dia melakukan sebuah tindakan yang membuat aku marah sekaligus khawatir.
Malam ini, disaat aku menulis cerita
ini, aku dikamar memandang laptop milik bapakku sambil mendengarkan lagu
berjudul Asal Kau Bahagia yang
dicover oleh Hanin Dhiya, dan saat ini aku belum ngantuk.
Rahman, aktif di OSIS bersamaku.
Tapi disekolah, dia lebih dikenal melalui kegiatan kepramukaan yang dia jalani,
terlebih lagi dia telah mendapat gelar sebagai Pramuka Garuda dan ikut dalam
Asosiasi Pramuka Garuda Dunia atau biasa disebut ATAS World.
Pada awal resminya OSIS periode
kedua ku, aku mengenal dia. Dia yang awalnya hanya curhat kepadaku tentang
pacarnya yang sekarang udah jadi mantan karena direbut temannya sendiri.
Sepertinya dia sangat sakit hati sampai dia melakukan hal bodoh seperti itu,
bodoh banget malah. Aku menawarkannya untuk bunuh diri dengan sayat nadi, tapi
dia gak mau. Sungguh menyakiti diri sendiri yang tanggung. Hehe.
Dia, iya dia. Rahman yang aku maksud
itu, Rahman yang lahir di Cianjur, tanggal 3 April 17 tahun yang lalu. Dia
mengetahui hampir semua perilaku konyolku, dia selalu duduk disana setiap jam
pulang, dibangku tunggu untuk tamu sekolah hanya untuk menunggu aku keluar
kelas, dia suka minta kalau aku jajan, dan dia justru tertawa saat aku jatuh.
Jatuh ke tanah maksudnya.
Entah sejak kapan kita sudah seperti
ini. Tapi yang aku tau, dia baik. Walaupun kata orang dulunya itu dia super
nakal, tapi biarlah, itu hanya masa lalu, tidak usah diungkit kembali. Dia yang
sekarang, adalah dia laki-laki baik, yang kata orang, aku itu pacarnya, padahal
bukan.
Hari itu, hari Jum’at, 31 Juli 2015,
OSIS diminta bantuan oleh Pramuka untuk menyelenggarakan kegiatan Penerimaan
Tamu Penggalang (PTP) untuk para siswa baru. Dengan senang hati, aku ikut.
Mulai dari pagi mempersiapkan peralatan, malam puncak penyulutan api unggun,
lintas alam di esok harinya, masak besar, sampai acara dibubarkan, aku tidak galau.
“aku tidur duluan ya, gak tahan,
ngantuk” begitu
kataku pada temanku, Reni
“Ya Lia, sebentar lagi aku nyusul,
masih ada keperluan” begitu katanya
Tidak lama kemudian, aku sudah pergi
ke titik lelap tidur. Tidak biasanya aku bisa cepat tertidur lelap, apalagi
dengan keadaan ramai seperti ini, mungkin karena sudah beberapa hari ini aku
kurang tidur dan istirahat karena kegiatan yang melimpah.
Jam 2 dinihari, aku terbangun, aku
lapar. Ketika aku bangun, tubuhku tertutup selimut berwarna coklat yang tidak
terlalu tebal tapi cukup membuat rasa nyaman. Aku bingung, karena tadi saat aku
pergi tidur, aku tidak pakai selimut. Lantas, siapa yang menyelimutiku dan
siapa tuan dari selimut ini? Ah sudahlah, aku tak tau, saat ini aku lapar.
Aku keluar ruangan, berniat pergi ke
ruangan penyimpanan barang panitia, dan makan. Dilapangan, ada 4 orang
laki-laki yang merupakan temanku juga, sedang menonton film menggunakan
proyektor yang dipancarkan ke dinding yang biasa digunakan untuk memantulkan
bola basket. Ketika aku lewat, aku lihat ada Rahman, tapi dia tidak ikut
nonton, dia tidur. Ya, tidur dilapangan, hanya beralaskan koran dan tanpa
selimut. Melihatnya seperti itu, akhirnya aku membangunkan dia,
“Apaan sih Lia??” katanya dengan nada orang bangun
tidur tapi masih ngantuk berat
“Bangun. Ngapain ih tidur disini.
Temenin aku dong” kataku
“Kemana ?”
“Makan. Kamu lapar gak?”
“Lapar”
“Yaudah ayo banguuunn”
Akhirnya, dia bangun secara terpaksa
karena dipaksa olehku. Kita, aku dan dia, menuju ruang panitia. Tapi ketika
kita sudah tiba disana.....
“Makanan aku gak ada” kata Rahman
“Kok ?” Tanyaku bingung
“Soalnya udah aku makan tadi siang,
hehe”
“Dimakan sekaligus ?” tanyaku kembali
“Hehe” dia tertawa kecil
“Dasar ! Yaudah sini, makanan aku
banyak. Berdua ya.” kataku. Kebetulan aku dibekali nasi yang cukup banyak oleh
mama. Hehe
Akhirnya, bekal makanan ku dibagi
dua, untukku dan untuk Rahman. Bayangkan, disaat orang lain sedang ada di jam
tidurnya, kami berdua asik makan di ruang panitia, menurutku tak masalah, toh
tidak ada yang melarang, karena kami lapar.
Sehabis itu, aku tidak bisa kembali
tidur. Akhirnya aku menghabiskan waktu luang itu bersama Rahman, mengobrol
didepan api unggun yang mulai padam sembari menghangatkan badan. Mungkin
terdengar romantis olehmu. Tapi tidak olehku, karena inilah persahabatan. Boleh
saja kamu berpendapat bahwa kita terjebak dalam friendzone, memang banyak yang bilang seperti itu. Tapi aku dan
Rahman, hanya sepasang sahabat tanpa ada perasaan apa-apa, yang mungkin kalau
ada, bisa merusak hubungan persahabatan ini.
Esok paginya, jadwal lintas alam pun
tiba. Aku pergi bersama Rahman di rombongan terakhir. Selama lintas alam, aku
sibuk mendokumentasikan kegiatan ini, karena aku memang ditugaskan untuk bagian
dokumentasi. Dan Rahman, entah sibuk apa dia. Dia hanya jalan mendampingi
sambil membawakan makanan dan minuman untuk kita berdua. Biarlah saja dia yang
bawa, karena aku bawa kamera untuk dokumentasi. Hehe.
Sesekali aku mengambil gambarnya
yang sedang tidak bergaya itu. Dengan wajah lelah yang tak karuan, dengan
santai nya dia makan cemilanku sampai hampir habis. Hmm..
Selepas acara lintas alam, kami
bersiap-siap untuk acara penutup dan pembubaran. Karena acara ini hanya
dilaksanakan dua hari saja. Disaat para siswa dan sebagian panitia sudah
pulang, aku dan Rahman masih disekolah, berbincang bersama guru kami bernama
Pak Purnama yang juga merupakan pelatih ekstrakurikuler Marching Band yang aku
ikuti. Pak Purnama itu sangat baik. Aku dan Rahman sudah sangat akrab
dengannya, bahkan kami suka berbagi cerita tentang apapun itu kepada beliau,
karena kami sudah menganggap beliau seperti orang tua kami sendiri.
“Sudah sedekat apa sama Lia?” Tanya Pak Purnama tiba-tiba. Sontak
saja aku dan Rahman kaget.
“Sahabat
pak, atau jangan-jangan kita saudara saking dekatnya, ya kan Lia?” Jawab Rahman
“Kalian tau film India yang judulnya
Kuch-kuch hota hai ? Tau kan bagaimana cerita didalamnya ?”
“Tau” jawab kami berbarengan
“Bapak punya feeling, di akhir,
kalian akan seperti itu”
“Hah?” aku dan Rahman tercengang
“Gak mungkin lah pak, itu kan cuma
film” kataku
“Iyalah pak” timpal Rahman
mendukungku
“Yaa, itu kan hanya feeling bapak.
Tapi bapak mendukung kalian. Yasudah kalian pulang, ini sudah sore”
“Yasudah pak, Assalamualaikum” kata aku dan Rahman pamit
“Waalaikumsallam”
Dari
situ, jujur, aku dan Rahman bingung kenapa Pak Purnama tiba-tiba berbicara
seperti itu. Apa mungkin Pak Purnama hobi menonton film India ? Sampai-sampai
ingin cerita dalam film itu nyata adanya, yaitu melalui kami. Tapi yasudahlah,
tidak menjadi beban juga, dan jangan kau pikirkan juga, Karena akupun tidak
memikirkannya.
Selepas
hari itu, aku dan Rahman menjalani hari-hari sekolah seperti biasa, dengan
macam-macam debat berisi hal-hal yang tak penting untuk dibahas, tapi bisa
menjadi bumbu bagi kami disetiap harinya.
Asal
kamu tau, aku ingin memberitahumu tentang ini, meskipun aku tau hanya
kemungkinan kecil kamu ingin tau tentang hal ini. Aku senang bisa memiliki
sahabat seperti Rahman. Sedih rasanya ketika harus berpisah karena sekolah yang
sudah tak lagi sama. Saat itu, hanya dia, yang rutin menungguku setiap jam
pulang sekolah, dia yang rela aku bangunin jam 2 pagi hanya untuk menemaniku
makan, dia yang ambil selimut Reni buat selimutin aku saat PTP, dia yang selalu
sabar dengerin curhat nya aku meski aku sambil marah-marah ke dia, dia yang
ditanya para guru disaat aku pulang atau jalan sendirian, dia yang suka ngelucu
tapi candaannya garing, dan... Masih banyak lagi, cerita-cerita gak jelas kita
tapi lucu yang orang gak akan pernah mengerti dan gak bisa aku sebutin satu per
satu. Tapi intinya, aku bersyukur sudah dipertemukan dengan orang sepertinya
walau sekarang sudah jarang bertemu.
-------------------------------------------------- ---- The end -------------------------------------------- -
A girl's story is going through a situation that most women in the world would not want:
who was practically in a tense atmosphere, in-between the two men with her.
What is the story of this girl can make tense? "tense what ya hehe"
-------------------------------------------------- ---- The end -------------------------------------------- -
A girl's story is going through a situation that most women in the world would not want:
who was practically in a tense atmosphere, in-between the two men with her.
What is the story of this girl can make tense? "tense what ya hehe"
Me, You, and Young Praja Karana
"Not suicide aja?"
He was just silent, as I continued to babble to him at the same speed as an angkot car loaded with loads. It seems, all this has been fine, but today, he did an act that made me both angry and worried.
Tonight, as I write this story, I am looking at my father's laptop while listening to a song titled Your Blissful Origin covered by Hanin Dhiya, and right now I'm not sleepy yet.
Rahman, active at OSIS with me. But
at school, he is better known through his scouting activities, even
more so he has earned the title as a Garuda Scout and participated in
the Garuda Boy Scouts Association or commonly called TO World.
At the official start of my second period OSIS, I knew him. He who initially only vent to me about his girlfriend who is now already a former for his own friend. He seems so hurt that he does such a stupid thing, really stupid. I offered her to kill herself with a pulse, but she did not want to. It really hurts oneself. Hehe.
He is, yes he is. Rahman I mean it, Rahman who was born in Cianjur, on April 3, 17 years ago. He
knows almost all of my silly behaviors, he always sits there every hour
back home, is waited for school guests just to wait for me out of
class, he likes to ask if I'm a snack, and he laughs when I fall. Falling to the ground means.
Either since when we've been like this. But what I know, he's good. Even though the word people used to be that he was super naughty, but let it be, it's just the past, no need to be brought back. He who is now, is he a good man, who said people, I'm his girlfriend, but it is not.
That
day, Friday, July 31, 2015, OSIS was asked for help by the Boy Scouts
to organize the Pempang Guest Reception (PTP) for new students. Gladly, I'm coming. Starting
from the morning preparing the equipment, the night peak firebreaking,
cross the nature in the next day, great cook, until the event was
dissolved, I'm not upset.
"I slept first yes, can not stand, sleepy" so I say to my friend, Reni
"Yes Lia, I will soon follow, there is still a need" he said
Not long after, I've gone to bedtime. It's
not unusual for me to be fast asleep, especially with this crowded
state, probably because I have been sleepless for a few days and have
been resting because of the abundant activities.
At 2 AM, I woke up, I was hungry. When I wake up, my body is covered with a brown blanket that is not too thick but enough to make sense of comfort. I was confused, because when I went to bed, I was not wearing a blanket. So who covers me and who is the master of this blanket? Oh well, I do not know, right now I'm hungry.
I left the room, intending to go to the committee's storage room, and eat. In
the field, there are 4 men who are my friends too, watching a movie
using a projector emitted to a wall commonly used to bounce basketball. As I passed, I saw Rahman, but he did not go to watch, he slept. Yes, sleeping in the field, only with newspaper and without blankets. Seeing her like that, I finally woke her up,
"What's up Lia ??" he said in the tone of people wake up but still sleepy heavy
"Get up. Why not sleep here. Temenin aku dong " I said
"Where ?"
"Eat. Are you hungry? "
"Hungry"
"Yeah let's banguuunn"
Finally, he woke up forced by me. We, me and him, go to the committee room. But when we arrived there .....
"Food I'm not there" said Rahman
"Why?" I asked confusedly
"Because I've eaten this afternoon, hehe"
"Eaten at once?" I asked back
"Hehe" he chuckled
"Basic! Here I eat a lot. Together yes, " I said. Incidentally I was provided with enough rice by mama. Hehe
Finally, my food is divided into two, for me and for Rahman. Imagine,
while other people are at bedtime, we are both cool to eat in the
committee room, I think no problem, yet no one forbid, because we are
hungry.
After that, I can not go back to sleep. Finally I spent that spare time with Rahman, chatting in front of the bonfire that started to go out while warming up. It may sound romantic to you. But not by me, because this is a friendship. You may think that we are stuck in friendzone, indeed many say like that. But me and Rahman, only a pair of friends without any feelings, which, if possible, could damage this friendly relationship.
The next morning, the cross-country schedule arrived. I went with Rahman in the last party. During cross-country, I was busy documenting this activity, because I was assigned to the documentation section. And Rahman, whatever busy he is. He just walks along while bringing food and drink for both of us. Let him take it, because I bring a camera for documentation. Hehe.
Occasionally I take a picture that is not that stylish. With a weary tired face, he casually eats my snacks until it's almost gone. Hmm ..
After the cross-country event, we prepare for closing and dissolution events. Because this event only held two days. While
the students and some of the committee had gone home, Rahman and I were
still at school, talking with our teacher named Mr. Purnama who is also
an extracurricular trainer of the Marching Band that I follow. Mr. Purnama is very good. Rahman
and I are very familiar with it, even we like to share stories about it
to him, because we already consider him like our own parents.
"It's as close as Lia?" Mr. Purnama asked suddenly. Suddenly me and Rahman surprised.
"Friends sir, or lest we are so close, is not it Lia?" Rahman replied
"Do you know that Indian movie Kuch-kuch hota hai? Do you know what the story is? "
"Tau" answer us in unison
"Dad has a feeling, at the end, you'll be like that"
"Huh?" Rahman and I stunned
"No way, sir, it's a movie," I said
"Iyalah pak" Rahman said supported me
"Well, that's just a feeling of father. But you support you. Yasudah you go home, it's late "
"Yas, sir, Assalamualaikum" said me and Rahman said goodbye
"Waalaikumsallam"
From there, honestly, Rahman and I wondered why Mr. Purnama suddenly spoke like that. Is it possible Mr. Purnama to watch Indian movies? To the point of wanting the story in the movie is real, that is through us. But yasudahlah, not a burden too, and do not you think too, because I do not think about it.
After
that day, Rahman and I went through the school days as usual, with
debates containing things that were not important to discuss, but they
could be a spice for us every day.
-------------------------------------------------- ---- The end -------------------------------------------- -
Demikianlah Artikel Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana
Sekianlah artikel Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Aku, Kau, dan Praja Muda Karana / Me, You, and Young Praja Karana dengan alamat link https://prosrozer.blogspot.com/2018/06/aku-kau-dan-praja-muda-karana.html
Advertisement

EmoticonEmoticon